Persepsi Siswa Terhadap Tantangan Mental Health Selama Pembelajaran Online
Persepsi Siswa Terhadap Tantangan Mental Health Selama Pembelajaran Online – Di Indonesia sendiri, pandemi COVID-19 memaksa sekolah-sekolah untuk beralih dari pembelajaran tatap muka ke metode daring. Meskipun memberikan berbagai kemudahan seperti fleksibilitas waktu dan akses yang lebih luas, pembelajaran online juga membawa tantangan tersendiri, terutama terkait kesehatan mental siswa. Banyak siswa yang merasa mengalami tekanan, stres, dan kecemasan yang cukup tinggi selama menjalani proses belajar dari rumah.
1. Persepsi Siswa Terhadap Rasa Bosan Dan Isolasi
Salah satu persepsi yang umum diungkapkan siswa adalah perasaan bosan dan isolasi. Mereka merasa kehilangan interaksi sosial yang selama ini mereka dapatkan di sekolah. Tanpa adanya tatap muka langsung, komunikasi dengan teman dan guru menjadi terbatas. Banyak siswa menyatakan bahwa mereka merasa kesepian dan kurang motivasi karena tidak ada suasana belajar yang dinamis dan penuh semangat seperti di kelas.
2. Persepsi Terhadap Beban Tugas Dan Tekanan Akademik
Beban tugas yang meningkat selama pembelajaran online juga menjadi salah satu faktor yang membebani mental siswa. Banyak siswa merasa bahwa tugas dan latihan yang diberikan terlalu banyak dan sulit diselesaikan tanpa bimbingan langsung dari guru. Perasaan cemas akan nilai dan keberhasilan akademik mulai muncul, terutama jika mereka merasa tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik.
3. Persepsi tentang Kurangnya Dukungan Emosional
Selama pembelajaran daring, banyak siswa merasa kekurangan dukungan emosional dari guru dan lingkungan sekitar. Mereka beranggapan bahwa komunikasi jarak jauh membuat mereka merasa kurang diperhatikan dan tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Beberapa siswa mengungkapkan bahwa mereka merasa takut, cemas, dan tidak tahu harus berbuat apa ketika menghadapi masalah pribadi atau akademik.
4. Persepsi Terhadap Tekanan Keluarga Dan Lingkungan Rumah
Selain faktor internal, lingkungan rumah dan keluarga juga mempengaruhi persepsi siswa terhadap tantangan mental health. Beberapa siswa merasa bahwa tekanan dari keluarga, seperti harapan tinggi dan kurangnya ruang pribadi, memperburuk kondisi mental mereka. Ada juga persepsi bahwa suasana rumah yang tidak kondusif, misalnya adanya konflik keluarga atau gangguan lingkungan, membuat mereka sulit fokus belajar dan meningkatkan rasa stres. Sebaliknya, ada juga siswa yang merasa mendapatkan dukungan positif dari keluarga, sehingga mereka bisa mengatasi tantangan secara lebih baik.
5. Persepsi Terhadap Perubahan Rutinitas Dan Kebiasaan
Pembelajaran online juga mengubah rutinitas harian siswa secara drastis. Mereka merasa kebingungan dan tidak nyaman karena kehilangan kebiasaan belajar di sekolah dan berinteraksi secara langsung. Banyak siswa berpersepsi bahwa perubahan ini menyebabkan mereka merasa tidak stabil secara emosional dan merasa sulit menyesuaikan diri.
6. Persepsi Terhadap Pengaruh Media Digital Dan Teknologi
Penggunaan teknologi dan media digital sebagai alat belajar juga memiliki dampak terhadap kesehatan mental siswa. Ada persepsi bahwa terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar menyebabkan kelelahan mata, kurang tidur, dan kelelahan mental. Beberapa siswa merasa bahwa mereka merasa jenuh dan bosan karena harus mengikuti pelajaran secara daring dalam waktu yang lama.
7. Persepsi Tentang Keterbatasan Fasilitas Dan Akses
Tidak semua siswa memiliki akses yang sama terhadap fasilitas dan teknologi yang memadai untuk mengikuti pembelajaran online. Banyak siswa dari daerah terpencil atau keluarga ekonomi lemah merasa frustrasi dan cemas karena keterbatasan perangkat atau koneksi internet yang tidak stabil.
Persepsi siswa terhadap tantangan mental health selama pembelajaran online sangat beragam dan kompleks. Perasaan bosan, isolasi, tekanan akademik, kekurangan dukungan emosional, serta ketidaksetaraan akses menjadi beberapa faktor utama yang mempengaruhi kondisi mental mereka. Sebagai solusi, diperlukan perhatian dari semua pihak untuk menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga mendukung kesejahteraan psikologis siswa.

